Tondano – Mahasiswa Jurusan Kimia FMIPAK mengembangkan inovasi edukasi mitigasi bencana yang dirancang khusus untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di SLB Paulus Tomohon, Sulawesi Utara. Inovasi dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) ini memadukan teknologi Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan Artificial Intelligence (AI). Tim inovatif ini diketuai oleh Delon Masdan, beranggotakan Natasya Magelo dan Joel Gabriel Paath, serta di bawah bimbingan dosen Jakub Saddam Akbar, S.Pd., M.Pd.
Program ini lahir dari tingginya risiko erupsi Gunung Lokon yang mengancam Kota Tomohon. Kelompok disabilitas sering kali menjadi pihak paling rentan karena kesulitan merespons peringatan dini konvensional dan minimnya fasilitas evakuasi yang ramah disabilitas. Sebelumnya, edukasi di SLB Paulus Tomohon hanya mengandalkan cerita lisan dan poster 2D yang kurang sesuai dengan kebutuhan kognitif maupun sensorik para siswa.
Menjawab tantangan tersebut, tim merancang inovasi bertajuk “Replica Volcanic Lokon Eruption Integrated AR, VR and Inclusive Assistant“. Inovasi ini memiliki tiga komponen utama:
- Miniatur 3D Gunung Lokon: Media utama yang bisa dibongkar-pasang untuk memberikan pengalaman taktil (sentuhan), sangat bermanfaat bagi siswa dengan keterbatasan visual.
- Simulasi AR dan VR yang Aman: Teknologi AR memproyeksikan informasi digital seperti zona bahaya dan arah lahar di atas miniatur fisik melalui layar tablet. Sementara itu, teknologi VR menyajikan simulasi erupsi 360 derajat secara imersif, memungkinkan siswa berlatih respons evakuasi tanpa risiko fisik yang nyata.
- Inklusif Assistant Berbasis AI: Sistem cerdas ini menyesuaikan panduan keselamatan dengan karakteristik disabilitas siswa. Misalnya, panduan suara dan getaran haptic untuk siswa tunanetra, input teks untuk siswa tunawicara, serta transkrip real-time dan visual peringatan dinamis untuk siswa tunarungu.
Implementasi program ini tidak berhenti pada pembuatan produk. Tim mahasiswa juga memberikan pelatihan intensif kepada lima guru pendamping di SLB Paulus Tomohon. Guru dibekali kompetensi teknis, pedagogis, hingga adaptif, lengkap dengan buku pedoman khusus agar teknologi ini dapat terus digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.
Pihak SLB Paulus Tomohon telah menyatakan komitmennya untuk mengintegrasikan inovasi ini secara berkelanjutan. Ke depannya, inovasi mahasiswa UNIMA ini diharapkan bisa menjadi model edukasi mitigasi bencana inklusif yang dapat direplikasi di berbagai wilayah rawan bencana lainnya di Indonesia.
